Membaca Laut Bercerita
Beberapa hari yang lalu, gue baru menamatkan novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel ini sebetulnya udah menjadi daftar bacaan gue sejak lama. Selain karena tidak terlalu ramah di kantong mahasiswa ekonomi lemah macam gue, 'panggilan' untuk membeli dan membaca buku ini memang baru ada minggu kemarin.
'Panggilan' yang gue maksud di sini seperti ada satu momen yang membuat gue berbisik dalam hati "ah udah saatnya baca ini". Soalnya begini, tiap kali mengunjungi toko buku yang sebagian (besar) buku-bukunya ada di daftar bacaan gue, pasti gue akan berputar-putar dulu agak lama untuk bolak-balik mengambil dan 'memegang' beberapa opsi buku. Dan, ketika ada buku yang gue rasa punya getaran cukup kuat di tangan, maka pilihannya akan jatuh ke buku tersebut.
Momen sok spritual tersebut terjadi ketika gue memegang buku Laut Bercerita minggu kemarin. Maka, buku inilah yang menjadi bacaan beberapa hari ke depan.
Tak butuh waktu lama, novel ini sulit untuk tidak dihabiskan dalam satu atau dua hari. Banyak hal yang bikin gue sulit melepaskan buku ini dengan lama tanpa menyelesaikannya.
Gue sengaja tidak mau membaca sinopsis pendek di sampul belakangnya. Sebagai tim tidak suka spoiler baik buku maupun film, membaca sinopsis tersebut akan mengurangi kenikmatan membacanya. Maka, laku tersebut gue hindari.
Novel ini bercerita dengan menggunakan alur maju mundur. Ini teknik yang lazim buat sebagian besar novelis agar pembcaa tidak bosan. Selain itu, kalau menurut Soe Tjen Marching, penulis novel Dari Dalam Kubur itu, novel dengan alur maju mundur juga menggambarkan bagaimana ingatan manusia itu bekerja secara acak. Sering kali, kita mengingat hal dari masa lalu; entah satu tahun lalu atau sepuluh tahun yang lalu.
Dengan alur begitu, Leila Chudori memulai dengan prolog yang sangat kuat dan berkesan, sehingga sulit dilupakan saat membaca lanjutan cerita setelahnya.
Sebenarnya gue agak malas membahas sinopsis ceritanya. Selain karena butuh waktu buat menuliskannya, membaca ulang dengan skimming juga ga enak.
Jadi gue akan bahas hal-hal yang gue anggap paling menarik aja ya.
Novel ini entah kenapa, mungkin karena gue punya kecenderungan narsis (bukankah kita semua begitu?), tapi rasanya dalam titik tertentu terpaut dengan kehidupan kampus gue. Iya, jauh beda semangat zamannya.
Beberapa karakter tokohnya rasanya akan ada di setiap generasi di kampus, atau mungkin semua karakternya.
Jaman sekarang tentu kita tidak merasakan menyelundupkan buku-buku Pram dan fotokopoiannya. Biru laut dkk harus melakukan itu agar tidak jadi alasan penangkapan mereka. Mereka, terutama setelah aktif di gerakan massa dan menjadi pentolan organisasi sayap kiri paling besar di masanya, harus hidup dengan mengenali semua alasan penangkapan terhadap mereka. Selain itu, mereka juga harus menyiapkan identitas palsu. Serta, jalur komunikasi bawah tanah yang dirancang khusus buat kelompok mereka saja. Pola terorganisir ini tentu hanya bisa dilakukan dengan disiplin organisasi yang ketat dan pimpinan organisasi yang kuat.
Leila menulis dengan detil dan indah. Caranya meramu kata dengan tepat untuk menggambarkan suasana dan kondisi sungguh mengagumkan. Detil-detil itulah yang membuat novel ini semakin berwarna.
Gue selalu tertarik bagaimana novelis menerjemahkan riset empirisnya menjadi suatu novel yang menarik.
Leila tentu melakukan riset terlebih dahulu. Ia awalnya menggunakan sumber cerita dari tulisannya Nezar Patria yang menjadi insipirasi karakter dari tokoh ini. Artikel Nezar yang berjudul "Di Kuil Penyiksaan Orde Baru" itu dimuat di Tempo dalam edisi Khusus Soeharto. Tulisan yang membuat hati perih membacanya.
Kemudian, ia mewawancarai berbagai narasumber yang berada dalam gelombang gerakan 1998, entah dari yang selamat ataupun keluarga korban yang dibunuh maupun yang dihilangkan paksa.
Yang menarik juga, Leila berkonsultasi dengan dua orang Dokter bernama Raya Batubara dan Mesty Ariotedjo agar dapat membentuk karakter Asmara Jati dengan baik.
Dalam membentuk karakter Alex Perazon yang gagah itu, Leila dibantu Hermien Kleden dan Marianus Kleden untuk meriset nyanyian para pelaut solor.
Maka tidaklah mengagetkan walaupun jumlah karakter di dalam novel ini tidaklah sedikit, tetapi keunikan dan kekhasannya tidak pernah dilupakan.
Leila juga mendasarkan penulisan novel ini pada dua buku yang ia baca: Menyulut Lahan Kering Perlawanan, Gerakan Mahasiswa 1990an oleh FX Rudy Gunawan, Nezar Patria, Yayan Sopyan, dan Wilson, dan Anak-Anak Revolusi oleh Budiman Sudjatmiko.
Ngomong-ngomong, kalau kalian baca novel ini dan mengenal rekam jejak Budiman Sudjatmiko, kalian pasti akan menerka-nerka tokoh mana yang terinspirasi dari dirinya.
Udah deh segitu dulu aja ya ahaha kalau tertarik baca, bisa beli atau pinjem sama temen2 kalian yang punya.
Jago kata
BalasHapus