Lambung yang Baik, Mari Bekerja Sama Kembali!

Sumber: https://us.123rf.com

Sudah 20 tahun lebih lambung dan aku bekerja sama. Ia tidak banyak mengeluh. Sekalipun berbagai rasa makanan dan minuman telah diterimanya dengan lapang dada. (Memangnya lambung punya dada?!). Dari perjalanan panjang itu, kita setidaknya mempunyai dua fase kritis.

Suatu malam, yang kebetulan agak dingin, tidurku terganggu. Rasanya ada yang meninju sangat keras tepat di uluh hati. Sakitnya luar biasa. Baju yang dikenakan terasa basah padahal cuaca dingin. Ternyata itulah keringat dingin. Keringat yang hanya datang ketika orang menahan nyeri atau sakit yang tak tertahan.

Semua orang terbangun, ya keluargaku. Siapa lagi? Waktu itu aku belum ada khodam. Sekarang juga masih tidak ada sih. Oke, lanjut ya. Semuanya panik. Tentu mama yang paling panik. Air putih hangat kuku tidak lagi meredakan. Minyak angin tidak memberi efek. 

Akhirnya, kakakku menuang air panas ke botol kemasan plastik buat ditempelkan ke atas perut. Masih tidak terasa! Antara sadar atau tidak, aku mengambil botol itu, dan berusaha menumpahkan air panas termos itu langsung ke perut. Syukurlah, gerak refleks kakak yang masih muda (pada saaat itu :D) menyelamatkan kulitku dari luka melepuh. Kulit perut masih mulus, tentu tidak dengan lambung ini. Ia sedang terluka. 

Maka, saat itu juga, aku dilarikan ke RS. Semua tetangga dekat ikut membantu. Aku digendong ke IGD. Dalam perjalanan aku masih dalam keadaan setengah sadar. Waktu itu aku sudah SMP. Entah kenapa, tak banyak hal yang ku ingat. Padahal, ingatan saat TK saja masih teringat dengan jelas. Rasa sakit itu menurunkan kemampuanku untuk merekam kejadian. Satu-satunya yang teringat dengan jelas: rasa sakit dan perih itu.

Sudah lama aku sembuh dari asam lambung. Dunia kampus mengantarkanku pada makanan yang tidak terlalu sehat dan jam makan yang hampir selalu ngaret. Anehnya, satu-satunya penyakit yang didapat hanyalah diare. Asam lambung? Sepertinya hampir tidak pernah. Kalaupun ada, insignifikan. 

Kini, setahun pasca meninggalkan dunia perkuliahan, asam lambung datang tanpa ampun. Ia sebenarnya sudah memberi tanda-tanda itu di 2020 ketika aku acapkali tidur setelah makan, dan menemukan perut sangat panas hingga ke dada. Bodohnya, aku mengabaikan gejala dan sinyal dari tubuh ini.

Tahun 2021 datang, tepatnya di bulan April saat bulan puasa. Perutku tidak bisa menerima makanan yang masuk dari saat sahur maupun ketika berbuka. Aku muntah, berkali-kali, hingga semua yang dimakan keluar bak air mancur. 

Siklus muntah-mual-muntah ini berulang kali terjadi. Biasanya kambuh dalam seminggu. Lalu, ia datang lagi beberapa minggu kemudian. Kalau tidak salah, siklus ini sudah berlangsung lebih dari lima kali sampai sekarang. Tiga siklus terakhir sungguh mengkhawatirkan. Badan lemah, energi habis, dan motivasi buat bergerak jadi hilang.

Akhirnya diri ini tersadarkan setelah mengetahui fakta bahwa asam lambung berhubungan erat juga dengan tingkat stress dan kecemasan. Tentu, faktor lain seperti makanan sangat berpengaruh. Tapi makanan hanyalah pemicu. Asam lambung sudah tinggi ketika stress melanda. Makanan pedas hanya melakukan smash saja.

Aku tidak sendiri. Di dunia, banyak yang menderita penyakit serupa. Di AS sendiri, 60 juta orang merasakan panas di daerah dada setiap bulan. Dan masih banyak lagi studi yang menyebutkan peningkatan penyakit asam lambung dan GERD.

Menyoal GERD dan stress serta kecemasan, ketiga hal ini saling berhubungan. GERD dapat memicu stress, dan stress sendiri juga dapat memicu GERD. Studi di tahun 2018 menunjukkan mereka yang memiliki gangguan kecemasan berpotensi lebih untuk menderita GERD. Studi lain menyatakan penderita kecemasan dan stress yang memiliki gejala dada panas dan nyeri menderita lebih hebat. GERD sendiri pun bisa menjadi sumber stress tersendiri bagi penderitanya. Maka, ini sudah menjadi lingkaran setan yang sulit diputus.

Jujur, rasanya tidak sanggup lagi memaparkan fakta ilmiah mengenai asam lambung/GERD. Akan sangat tidak lucu kalau proses membuat tulisan ini menjadi sumber stress tersendiri.

Tapi sungguh, jangan pernah sekali-sekali meremehkan penyakit ini. Aku sudah berkhianat terhadap lambung dan organ-organ pencernaan lainnya. Aku ingin membangun ulang hubungan yang sehat. 

Maka dari itu, lambung yang baik, mari bekerja sama kembali!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Laut Bercerita

Plafon dan Rumah Masa Depan Masyarakat Urban