Mengingat Pembantai Dili Bersama SGA

Judul: Saksi Mata
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 158 halaman

“Hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, untuk melawan ketakutan saya sendiri—dan saya sungguh bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Certita saya masih ada”.
            Begitulah Seno Gumira Ajidarma atau yang biasa dipanggil ‘SGA’ mengungkapkan bagaimana perasaan dan pikirannya saat menulis cerita pendek ini. Ketakutan ini tentu mempunyai alasan. Pada masa itu, awal 1990-an, telah terjadi pembantaian keji di Dili. Dan kita tahu, pemberitaan mengenai pembataian oleh para militer tidak akan menjadi isu nasional. Dianggap angin lalu saja, dilupakan. Namun, Seno melawan ketakutan yang dirasakan hampir semua jurnalis pada masa. Ia dengan berani menuangkan cerita tentang pembantaian tersebut di dalam majalah Jakarta Jakarta melalui sastra. Seperti yang ia katakan, “Jurnalisme dibungkam dan harus menggunakan sastra untuk bisa berbicara”. Tetapi, tetap saja ancaman dan terror didapatkan oleh Seno, seperti dibentak-bentak oleh salah satu pejebat militer yang risau sekali dengan bocornya berita tentang pembantaian tersebut.
            Pembantaian Dili atau biasa dikenal dengan pembantaian Santa Cruz terjadi pada 12 November 1991. Santa Cruz adalah nama pemakaman umum di Dili yang merupakan tempat seorang aktivis muda pro kemerdekaan, Sebastiao Gomez dimakamkan. Sebastiao Gomez ditemukan mati tergeletak di dekat Gereja Motreal setelah malam sebelumnya, 27 Oktober 1991, sekolompok provokator yang bekerja untuk intelijen Indonesia mengejek para aktivis pro kemerdekaan yang berujung dengan perkelahian. Dua minggu setealah itu, misa arwah dilaksanakan di Gereja Motreal, dan dilanjutkan dengan aksi unjuk rasa menuju pemakaman Santa Cruz. Kurang lebih ada lima ratusan massa yang berjalan sambil membentangkan spanduk dengan foto Xanana Gusmao, pemimpin gerakan kemerdekaan Timor Timur saat itu. Ketika sampai di pemakaman itu, seperti yang dilansir di Tirto, massa telah disambut dengan tentara Indonesia yang terdiri dari Kompi A Brimob  5485, Kompi A, Kompi D Batalion 303, dan Kompi Campuran. Namun, para pasukan ini tidak mengenakan seragam, melainkan mengenakan pakaian seperti preman. Sehingga, saat itu juga meletuslah pembantaian dengan penembakan warga sipil yang membabi buta. Ada yang mati tertembak, tertusuk, dipenggal, dan berbagai siksaan lainnya tanpa ampun. Setidaknya 50 orang tewas dalam insiden itu. Bahkan, dalam laporan yang lain tercatat 273 tewas dalam pembantaian warga sipil tersebut.
            Tentu saja, pada saat itu, berita mengenai pembantain Dili ini sulit ditemukan. Oleh sebab itu, Seno berusaha untuk menuangkannya di dalam kumpulan cerpen yang berlatarbelakang pembantaian warga sipil ini. Sony dengan apik dapat membangun emosi pembaca dengan alur cerita yang mengejutkan. Seperti pada cerpen yang pertama, yaitu Saksi Mata. Seno mencoba mengungkapkan bagaimana kesaksian seseorang di persidangan yang dibuat buta. Ia sebelumnya mengaku dibuat buta oleh ninja yang mencongkel matanya dengan sendok. Dengan darah masih mengalir di lantai, seorang saksi ini dengan berani dan tegas ingin bersaksi demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Namun, apadaya, besok malamnya, ia kembali didatangi melalui mimpi oleh ninja-ninja tersebut, dan kali ini lidahnya yang dipotong….. dengan menggunakan catut.
            Seno, menurut saya, berhasil menggunakan alegori mimpi sebagai bentuk cara memperlihatkan  bagaimana seseorang dapat disiksa dan tidak ada yang mengetahuinya termasuk korban tersebut! Siapa yang menyiksa? Dimana? Entahlah yang jelas matanya sudah hilang! Penggunaan karakter ninja juga menunjukkan orang-orang yang lihai sekali mengintai dan dengan cekatan menuntaskan misi apapun yang diberikan, termasuk mencongkel mata dan mencatut lidah seseorang.
Ia juga dengan cerdik menyinggung periswtiwa Dili dengan nada sarkasme. Seperti dalam cerpen Telinga yang bercerita tentang juru cerita yang juga bercerita kepada Alina tentang seorang wanita bernama Dewi yang dikirimi potongan telinga para orang-orang yang dicirugai sebagai musuh, para pemberontak. Potongan telinga ini dikirim langsung oleh pacarnya yang berjuang di medan perang sebagai kenang-kenangan. Di akhir cerita, juru cerita menutup cerinya dengan diikuti komentar langsung oleh Alina, “Alangkah kejamnya pacar Dewi itu”. Dan juru cerita itu pun menjawab, “Tapi, banyak orang yang menganggapnya pahlawan”.
Cerpen-cerpen yang menrut saya syarat akan perjuangan, konflik, perlawanan, pemberontakan, penyiksaan, pembantaian, pemerkosaan, penculikan, dan segala kemalangan yang hadir di dalam peristiwa itu. semuanya berusaha diungkapkan oleh Seno. Tentang seorang ibu yang tidak mengenali anaknya yang setelah bertahun-tahun disiksa dan kembali dengan wajah yang sama sekali berbeda. Tentang seorang aktivis yang, sialnya, bertemu dan bercerita dengan seorang intel tentang kegiatan perjuangannya yang berujung penahanan dirinya pada malam itu juga. Tentang seorang pria yang dipaksa menelan rosario oleh seorang prajurit sambil berteriak, “kemerdekaan adalah impian yang terkutuk”.
            Cerpen-cerpen ini mengingatkan kita kepada sejarah bangsa yang kelam. Bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di ujung timur sana. Warga sipil dibunuh dan ditembaki tanpa ampun. Selain itu, kita harus mengapresiasi SGA sebagai sastrawan yang memiliki keberanian yang besar dalam mengungkapkan fakta sejarah yang disembunyikan. Walaupun, dalam perjalanannya, ia kerap mendapati terror dari pihak-pihak yang…….. tentu sudah bisa kita tebak. Kepiawaian Sony melukiskan cerita membuat kita, pembaca, tidak akan lupa mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di dalam cerita tersebut. Sehinggal, cerpen ini layak untuk dibaca bagi mereka yang tidak ingin dibodohi oleh sejarah yang ditutup-tutupi, oleh fakta yang disembunyikan, oleh penguasa yang culas dan haus kekuasaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lambung yang Baik, Mari Bekerja Sama Kembali!

Membaca Laut Bercerita

Plafon dan Rumah Masa Depan Masyarakat Urban