Marlina (Tidak Mengaku) Berdosa?

Udara
dingin Jatinangor tidak dapat mengurangi niat keras sa untuk menonton Marlina
minggu malam kemarin. Rencana nonton ini sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari dipersiapkan.
Namun karena ada satu dan beberapa hal, sa harus mengurungkan diri dan
menundanya. Makanya hari ini sa bertekad acara tonton-menonton harus dilakukan
malam ini juga. Walaupun kondisi dompet jauh dari kata sehat, namun sa tetap
memaksakan demi menonton film yang telah mendapat tempat di cannes film festival di Perancis, salah satu
festival film bergengsi internasional.
Ada beberapa hal yang menarik
perhatian sa. Mungkin hal tersebut juga merupakan sesuatu yang ingin disampaikan
oleh sang pembuat film. Untuk diketahui saja, sa mungkin akan lebih banyak
membahas substansi dari film ini sebab sa memang tidak terlalu paham mengenai
hal ikhwal teknis pembuatan film. Namun bukan berarti sa tidak akan
membahasnya. Sa akan membahasnya, tapi dalam porsi yang jauh lebih sedikit, dan
tentu saja juga akan dikaitkan dengan subtansi dari film tersebut. Sebelum itu,
mari simak ringkasan cerita yang sa buat khusus untuk pembaca yang budiman.
Secara alur cerita, film ini sangat
sederhana. Bahkan, diakhir cerita, sa—mungkin juga kau, dapat menebak alur
ceritanya. Awal film ini dimulai dengan penggambaran situasi dan kondisi
seorang janda muda yang cantik bernama, Marlina—yang diperankan oleh Marsha
Timothy. Marlina yang tinggal di sebuah rumah kayu kecil di tengah padang
rumput indah Sumba tiba-tiba didatangi oleh seorang pria bernama Markus. Markus
secara terang-terangan meminta harta, bahkan kehormatan Marlina di samping
tubuh suaminya yang, sepertinya, sudah menjadi mumi—dalam posisi jongkok dengan
tangan menyangga kepalanya sendiri. Markus tidak sendiri. Setelah meminta
Marlina untuk memasak sup ayam, empat orang temannya markus tiba di rumah
tersebut. Sup—yang telah dicampur buah beracun ini juga— yang menjadi senjata
Marlina untuk membunuh empat temannya Markus. Akhirnya Markus harus meregang
nyawa setelah Marlina berhasil menjangkau golok di sekitarnya saat sedang berusaha
diperkosa. Maka babak pertama pun
berakhir.
Babak kedua
dipenuhi dengan perjuangan perjalanan Marlina membawa potongan kepala Markus
yang telah ia penggal ke kantor polisi, dan bertemu dengan Novi, seorang wanita
hamil yang sedang menunggu kelahiran bayinya yang sudah menginjak 10 bulan. Babak ketiga berjudul, “pengakuan dosa”.
Babak ketiga menceritakan bagaimana Marlina menerangkan kejadian kriminal yang
ia rasakan kepada Kepolisian Sumba. Namun mungkin karena takut sang polisi
tidak percaya, dan akan menuduh balik Marlina akan tindak pembunuhan, Marlina
(harus) berbohong dengan mengubah beberapa fakta terkait tindakan pemerkosaan
itu. Lalu, babak keempat merupakan
akhir cerita dari film ini. Novi yang sudah dipaksa Frans (salah satu dari dua
teman Markus yang selamat karena tidak ikut di malam pembunuhan tersebut) untuk
menyuruh Marlina membawa kembali kepala Markus ke rumahnya. Setelah Marlina
menyerahkan kepala Markus, Frans menyuruh Novi untuk membuatkannya sup ayam.
Rupanya sup ayam masih menjadi makanan favorit camat (calon mati) di film ini.
Yak, benar saja. Sembari Novi memasak di dapur, Marlina sedang dalam keadaan
diperkosa di kamar yang sama Markus memperkosa Marlina. Novi yang mendengar
suara tangisan dan teriakan Marlina, akhirnya memberanikan diri menobrak kamar,
masuk dan membacok leher Frans hingga tewas. Tidak lama setelah itu, rasa nyeri
yang Novi rasakan menjadi pertanda waktu melahirkan bayinya telah tiba. Bayi
Novi pun akhirnya berhasil lahir dengan sehat.
Hmm… ya, jadi begitu kira-kira ringkasan cerita
dari film tersebut. Sa tidak menyangka film berdurasi 90 menit dapat juga sa
ceritakan dengan 344 kata dan dua paragraf. Setidaknya sa harap pembaca yang
budiman paham kenapa pembuat filmnya mengambil judul, “Marlina si Pembunuh
dalam Empat Babak” dan kenapa ceritanya saya anggap sederhana. Nah…. baiklah, langsung
saja sa bahas hal menarik yang sa tangkap dari film itu atau sa
lebih suka menyebutnya sebagai hal yang menganggu, hal yang patut ditanyakan,
dan sa masih belum menemukan jawaban yang memuaskan. Hal itu adalah: kapan dan bagaimana Marlina melakukan
pengakuan dosa. Pertanyaan ini menganggu, meresahkan, sekaligus menantang sa
membayangkan kembali film tersebut, dan memikirkan ulang bagian mana yang sa
lewatkan.
Pencarian
jawaban atas pertanyaan tersebut membawa sa menelusuri ulasan-ulasan film ini
di internet. Dari beberapa ulasan yang sa baca, sa tidak dapat menemukan
jawabannya. Beberapa hal yang sa temukan adalah bagaimana film ini sangat dekat
dengan kondisi masyarakat patriarkis yang menindas peremmpuan, dan bagaimana
Marlina dikonstruksi untuk melawan hal tersebut dengan segala keterbatasan akses
pengetahuan, transportasi, dan harta yang ia miliki. Selain itu, film ini
memang sangat dipuji dengan pembawaannya yang tenang, perlahan, namun tetap
menggetarkan. Permainan sinematografi yang tepat dan latar belakang suara dan
musik yang kontekstual dan konsisten membawa penonton untuk terus menikmati
tiap-tiap scene tanpa bosan.
Sampai
saat ulasan ini ditulis pun, sa belum dapat menemukan jawabannya. Tapi karena sa
tidak ingin mengecewakan para pembaca yang budiman, maka sa setidaknya akan
menawarkan beberapa jawaban yang masih berupa asumsi dari pertanyaan tersebut. Sa
pikir kita harus menyetujui dulu bahwa pengakuan dosa dari babak ketiga yang
dimaksud merupakan pengakuan dosa dari Marlina, sang tokoh utama. Tentu saja,
pertama karena Marlina adalah tokoh utamanya. Kedua karena yang diperlihatkan
melakukan tindakan yang dianggap berdosa secara tekstual adalah Markus,
teman-temannya, dan Marlina. Markus dan teman-temannya yang berniat memperkosa
telah mati. Maka yang tersisa adalah Marlina yang membunuh markus dan
teman-temannya. Hal yang kedua yang harus kita setujui adalah dosa yang
dilakukan oleh Marlina adalah pembunuhan terhadap Markus dan teman-temannya
yang telah menjarah harta bendanya, dan akan berniat secara terbuka untuk
memperkosanya. Maka pada titik ini kita akan mempertanyakan, apakah berdosa
jika membunuh orang yang akan memperkosa kita? Bukankah hal tersebut adalah
bentuk pertanahan diri? Pada titik mana pertahanan diri dengan membunuh
dibolehkan?
Karena judul tulisan ini adalah sebuah
pertanyaan, maka sa akhiri tulisan ini cukup dengan pertannyaannya juga. Tidak
apa-apa kan?
P.S. Sa menggunakan 'sa' karena ingin membawa suasana Sumba kepada pembaca budiman. Semoga tidak gagal ~
P.S. Sa menggunakan 'sa' karena ingin membawa suasana Sumba kepada pembaca budiman. Semoga tidak gagal ~
Komentar
Posting Komentar