Siasat Pekerja Ojol dan Pekerja Domestik di Masa Pembatasan Sosial COVID-19
Tulisan ini merupakan saduran dari artikel jurnal yang ditulis oleh Joanna Octavia dengan judul "Network of Trust: Acccessing Informal Work Online in Indonesia During COVID-19" di Jurnal International Labour Review.
Di masa PSBB tahun lalu, pekerja ojol tidak dibolehkan untuk mengantarkan penumpang. Yang diperbolehkan hanyalah pengantaran makanan dan paket barang. Penurunan pendapatan dari masa sebelum pandemi mencapai 70 sampai 80 persen. Ada jutaan pekerja ojol yang terdampak. Sampai tahun 2020, ada 4 juta pekerja ojol yang ada di seluruh Indonesia, dan tentu terus bertambah hingga sekarang.
Setelah pelarangan jasa angkut penumpang pada April 2020, sekelompok pengemudi ojol mulai bersiasat. Mereka menggunakan Twitter untuk menawarkan jasa mengantar makan, paket, dan kebutuhan harian tanpa memakai platform aplikasi ojol. Mereka menyisipkan tagar #ButuhDriver di setiap post-nya. Isi tweet mereka menawarkan jasa dengan detil lokasi dan jasa apa saja yang mereka tawarkan. Beberapa bahkan menambahkan spesifikasi ukuran kendaraan, lokasi, dan jam terbangnya.
Jika kita mencari tagar #ButuhDriver, maka cuitan serupa akan muncul. Kebanyakan mereka menggunakan foto profil berseragam ojol dari Gojek atau Grab. Dengan penanda itu, mereka mengirimkan sinyal kepercayaan kepada calon pelanggan.
Siasat lainnya dari pengemudi ojol yaitu melalui kolaborasi dengan blogger makanan yang mempromosikan UMKM di seluruh Jakarta. Dari kolaborasi ini, para pengemudi ini mempromosikan jasa antar makanan untuk orang-orang yang memesan. Inisiasi ini semakin populer, sehingga sejumlah pengemudi membuat sistem logistik yang lebih teratur.
Pesanan akan dikumpulkan dalam satu borongan yang telah dibayar di awal oleh pelanggan. Pesanan ini kemudian dijemput oleh satu pengemudi yang dekat dari tempat penjual makanan, dan diantar oleh pengemudi yang dekat dari tempat pelanggan.
Sistem seperti ini jelas berbeda dengan platform tempat mereka bekerja karena biasanya biaya dikenakan setiap pesanan, sehingga beban biaya antar yang ditanggung pengguna menjadi lebih tinggi.
Inisiasi ini pada akhirnya berhasil menutup kekurangan pemasukan para pengemudi. Pengemudi sukses mengumpulkan rata-rata 300 ribu rupiah dengan promosi di Twitter selama pandemi. Dibandingkan sebelum pandemi, mereka dapat mendapatkan penghasilan hingga 400 ribu rupiah.
Salah satu pengemudi ojol, Yoel, menyatakan dapat memenuhi kebutuhan harian dari penghasilan jasa antar makanan. Beberapa teman seprofesinya juga mampu membayar hutang kredit motor dan biaya sewa lainnya.
Bagaimanapun, inisiasi ini hanya solusi sementara bagi pengemudi ojol. Setelah pembatasan sosial dicabut, mereka tetap akan kembali kepada perusahaan platform tempat mereka bekerja.
Riset ini juga menemukan bahwa tingkat keberhasilan mendapatkan pesanan oleh pengemudi ojol bergantung pada jumlah pengikut, serta jumlah likes dan retweet. Para pengemudi yang memiliki pengikut paling banyak menerima pesanan yang berlimpah, sehingga harus membagikan sebagian kepada pengemudi lain yang dalam jangkauannya. Sebaliknya, mereka yang pengikutnya paling kecil merasa kesulitan menarik pelanggan melalui Twitter. Mereka bergantung pada blogger makanan yang membantu like atau retweet. “Kadang, kalau blogger makanan tidak membantu dengan like, saya tidak mendapatkan pesanan sama sekali”, ucap Nina, pengemudi berumur 40 tahun.
Bagi pengemudi dengan sedikit pengikut, berinteraksi dengan pengguna Twitter berpengikut besar bisa menjadi solusi. Dengan bantuan akun besar, tweet dari pengemudi dapat mendapatkan jangkauan yang berkali-kali lebih luas. Dua penelitian menunjukkan bahwa pengguna Twitter lebih dipengaruhi oleh ‘sinyal’ dari tweet yang dipublikasikan dibanding isi dari tweet tersebut. Contoh dari sinyal tersebut misalnya apakah tweet tersebut diretweet oleh pengguna yang ahli dan terverifikasi, atau apalah penulis tweet adalah seseorang yang akunnya mereka ikuti.
Para pengemudi ojol juga menggunakan Twitter sebagai ruang membangun personal branding. Berbagi kisah pribadi dan testimoni dari dari pelanggan untuk membangun kepercayaan kepada para calon pelanggan baru. Mereka berlomba-lomba untuk membuat citra yang berbeda dengan pengemudi lain. Beberapa pengemudi perempuan misalnya membagikan cerita dan foto dari anaknya, sekaligus promosi jasanya di tweet yang sama. Erika, pengemudi berumur 30 tahun misalnya menulis, “Tolong bantu saya mendapatkan pelanggan yang mau memakai jasa saya. Saya seorang pengemudi ojol dan seorang janda dengan dua anak laki-laki”.
Selain itu, untuk membangun kepercayaan dari pelanggan, pengemudi memuat foto dari pesanan jasa pengiriman mereka dan mentweet ulang ulasan dari pelanggan-pelanggan yang lalu di timeline mereka. Dengan cara ini, mereka bisa sekaligus memilih ulasan seperti yang mereka retweet. Ini berbeda dari perusahaan platform tempat mereka bekerja yang semua ulasan dari pelanggan, yang baik atau buruk, akan muncul di profil mereka.
Setelah pembatasan sosial diterapkan, pesanan para ojol memang menurun dari Twitter. Tetapi, pelanggan lama tetap memesan di luar platform aplikasi. Tidak seperti pada platform yang harus siap setiap saat, tranksasi ini justru terjadwal sesuai kesepakatan antara pengemudi dan pelanggan. Dengan menjaga hubungan baik dengan pelanggan, para pengemudi dipercaya untuk mengantarkan barang-barang berharga, seperti laptop, HP, permainan Playstation, hingga dokumen penting.
Cerita sedikit berbeda dengan pekerja domestik. Di Indonesia khususnya, mereka tidak terlihat dan terisolasi dari mata orang banyak karena karakteristik pekerjaannya itu sendiri.
Penelitian ini menemukan bahwa pekerja domestik memiliki keterbatasan dalam penggunaan media sosial untuk mendapat pekerjaan selama pandemi. Mereka sangat bergantung dengan Whatsapp untuk menjaga hubungan dengan bos mereka sebelumnya. Namun, jika ada kesempatan untuk memasarkan jasanya di internet, para pekerja domestik akan membangun citra merek (brand image) dan memanfaatkan testimoni atau promosi dari pengguna jasa sebelumnya. Selain itu, pekerja domestik perempuan memiliki kekhawatiran jika harus menerima pelanggan di luar platform aplikasi.
Pekerja domestik yang diwawancarai pada penelitian ini secara umum mendapatkan penghasilan yang bagus sebelum COVID-19. Rata-rata mereka menerima dua hingga empat pesanan dengan pendapatan harian Rp250.000 hingga Rp400.000. Dengan bekerja penuh di platform aplikasi, penghasilan bulanan mereka berada di atas UMR Jakarta 2020 (Rp4.276.349). Mereka umumnya cukup puas dengan kondisi kerja di platform GoClean.
COVID-19 dan pembatasan sosial berpengaruh besar pada pekerja domestik. Untuk mendapatkan satu orderan saja, mereka harus berjuang. Berbanding terbalik dengan masa sebelum pandemi, orderan masuk sangat banyak. Alhasil, penghasilan menurun drastis hingga 90 persen.
Selama pandemi, mereka bersiasat dengan bergabung bersama platform lain, sampai akhirnya mendaftarkan diri di ServiceDirectory. Awalnya, wadah ini menggunakan spread sheet daring berbasis publik. Secara perlahan, ServiceDirectory menjadi website dan aplikasi ponsel pintar. Dengan persetujuan pekerja, ServiceDirectory mengumpulkan sekaligus membagikan info mengenai pekerja yang menyediakan layanan pijat, berkebun, dan bersih-bersih. Transaksi dilakukan di luar directory dengan menghubungi nomor telepon yang tertera di directory.
Mereka bisa bergabung ServiceDirectory dengan mendaftarkan diri, atau melalui rekomendasi pelanggan. Setelah bergabung, mereka membuat profil yang diisi dengan nama, kontak pribadi, dan juga media sosial untuk menarik konsumen. Menurut pemilik platform ini, media sosial merupakan merk pribadi (personal branding) yang dipakai sebagai portofolio. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak mencantumkan media sosialnya karena tidak aktif atau tidak mempunyai akun. Seorang pekerja mengakui ia tidak mengerti cara menggunakannya (media sosial).
Walaupun penggunaan media sosial belum optimal, pekerja domestik menampilkan dirinya dengan membuat atribusi dari pekerjaan mereka terdahulu sebagai mitra GoClean. Para pelanggan mengingat pekerja ini sebagai ‘mantan mitra GoClean’. Temuan ini menunjukkan bahwa, seperti sektor pekerjaan formal, informasi mengenai pengalaman kerja juga merupakan riwayat pekerjaan (Cohn et al. 2019).
Cara untuk menarik dan membuat calon pelanggan percaya yaitu dengan menampilkan testimoni dari pelanggan. Dengan satu testimoni saja, mereka akan mendapatkan lencana “direkomendasikan” yang dapat dilihat di profil. Ditambah lagi, algoritma directory merangking pekerja dengan semakin banyak testimoni semakin tinggi pada laman hasil pencarian. Ini hal yang diapresiasi oleh pekerja dan sangat membantu.
Temuan ini membuktikan bagaimana disintermediasi beroperasi dalam kerja platform. disintermediasi terjadi jika pelanggan berhubungan pertama kali lewat suatu platform, tetapi melanjutkan hubungan transaksi di luar platform tersebut. Praktik ini sebenarnya dilarang oleh pemilik platform dan dapat dijatuhi hukuman sebab menghambat platform mendapatkan komisi dari transaksi. Lebih jauh lagi, disintermediasi dapat mengakhiri perusahaan platform, misalnya perusahaan Homejoy di AS (Gu dan Zhu, 2018).
Isu lain yang dialami oleh pekerja domestik jika mereka bertransaksi di luar platform yaitu penipuan dan kekerasan. Lokasi kerja yang berada di dalam rumah membuat mereka rentan terhadap perlakuan pelecehan dan penganiayaan oleh pelanggan (Hunt dan Machingura, 2016). Rumah sendiri tidak dibawah regulasi pemerintah, sehingga kondisi kerja bergantung pada individu pelanggan itu sendiri (Masterson dan Hoobler, 2019).
Keuntungan utama dari platform yaitu mereka memberikan keamanan bekerja dengan memanfaatkan verifikasi identitas dan latar belakang (Gu dan Zhu, 2018). Beberapa platform menyediakan tombol alarm yang mengirimkan sinyal darurat kepada pihak berwenang jika dalam situasi bahaya.
Jaminan keamanan kerja dan perlindungan terhadap pekerja domestik akan berganti dari pemilik platform jika mereka bekerja di luar platform.
Selain itu, bekerja di luar platform juga tidak selamanya menguntungkan. Ada standar prosedur yang ketat untuk dipatuhi pekerja seperti tugas-tugas yang bisa atau tidak mereka selesaikan. Ditambah lagi, para pelanggan yang mengontak mereka di luar platform, misalnya directory daring, cenderung menawar harga yang lebih rendah dari platform.
Pada akhirnya, kedua pekerja informal ini (ojol dan domestik) terdampak secara berbeda dari pembatasan sosial COVID-19. Baik ojol maupun pekerja domestik tetap memilih kembali kepada platform digital. Alasannya bervariasi, mulai dari sedikitnya pesanan dari Twitter, sampai jumlah orderan yang bisa diterima dari platform, dan perlindungan keamanan yang didapatkan. Ini juga menunjukkan akses internet tidak bisa mengatasi hambatan sistemik dan gender pada industri jasa informal, seperti pekerjaan domestik.

Komentar
Posting Komentar