[SIARAN PERS] Jurnalisme Digital dan Perannya dalam Pendalaman Demokrasi | Yayasan Tifa





Zoom Meet, 16 Desember 2021 – Transformasi digital dalam beberapa dekade belakang ikut membawa perubahan pada jurnalisme, dari jurnalisme konvensional menuju jurnalisme digital. Adanya jurnalisme digital ini membawa perubahan pola produksi, distribusi, dan konsumsi informasi sehari-hari. Kecepatan jurnalisme digital membawa arus informasi yang deras. Konsekuensinya, publik dapat mengetahui beragam informasi publik hanya dengan menyentuh layar dari berbagai platform. Pada titik inilah, jurnalisme digital memiliki peran vital dalam demokrasi. Ia bisa menjadi pisau bermata dua dalam demokrasi: menyajikan informasi publik yang bermakna atau memperkeruh informasi publik demi klik dan arus laman web.

Untuk mendiskusikan topik tersebut, Tifa Foundation mengadakan Online Talkshow dengan tema ‘Jurnalisme Digital dan Perannya dalam Pendalaman Demokrasi”. Diskusi ini mengundang Zen RS selaku Pemimpin Redaksi Narasi TV, Evi Mariani sebagai pemimpin umum dan redaktur Project Multatuli, dan Endy Bayuni selaku editor senior dan anggota dewan The Jakarta Post. Diskusi ini dimoderatori oleh Petrarca Karetji sebagai anggota dewan pengurus Tifa Foundation.




Transformasi Digital dalam Jurnalisme dan Industri Media

Pada saat ini, digitalisasi mempermudah dan mempermurah biaya untuk membuat media digital. Selama pandemi juga, digitalisasi semakin berkembang karena tuntutan batasan sosial dan fisik. Akan tetapi, dengan gampangnya arus informasi, beragam konsekuensi negatif muncul, dari mulai hoaks hingga misinformasi. Karena itu, tantangannya adalah bagaimana memastikan orang-orang dapat membaca informasi yang benar dan penting untuk publik, sebut Evi Mariani sebagai pembuka talkshow.

Zen RS memulai dengan bercerita pengalaman membuat media analisis sepakbola pada tahun 2011. Salah satu dari pelajaran yang ia dapat yakni dunia digital membuat orang bisa berdaya dengan informasi. Dalam konteks analisis sepakbola, misalnya, audiens sepak bola sangat siap membaca laporan dan analisis panjang yang berbasis data dan statistik. Kebanyakan dari audiens ini adalah anak-anak muda, yang bahkan masih di usia sekolah. Pengalaman zaman mengajarkan anak muda ini menyerap informasi sepakbola dari dunia digital, misalnya dari gim (permainan) dengan kompleksitas data virtualnya.

Dunia digital membuat orang dapat belajar otodidak dengan akses pengetahuan yang mudah. Karena itu juga, otoritas pengetahuan, sebut Zen RS, menjadi lumer. Berkebalikan dengan stereotipe yang ada tentang anak muda dan kebiasaan instannya mengkonsumsi informasi, ia menyatakan justru sebaliknya anak muda ini cepat menyerap informasi dengan beragam lintas platform, bahkan lintas bahasa. Bagi anak muda ini, Gen Z dan setelahnya, mengkonsumsi informasi bukan hanya untuk bahan belajar, tetapi ada aspek kesenangan atau enjoyment. Artinya, mereka menikmati sebagai sesuatu yang menyenangkan dan relevan (relatable), dan bukan berarti itu hal yang receh. Untuk itu, tantangan para pembuat konten digital saat ini menjadi bagaimana membuat informasi menjadi menyenangkan dan relevan.

Endy Bayuni menambahkan keuntungan dari dunia digital membuat kapasitas lebih meningkat bagi jurnalis, dari mulai proses riset, hingga jangkauannya jauh lebih luas. Tantangannya, pemainnya semakin banyak. Di saat yang bersamaa, banyak konten media sosial yang melanggar HAM dan mengancam kehidupan.



Konten vs Jurnalisme: Mana yang Relevan untuk Pendalaman Demokrasi?

Di masa sekarang, batas antara konten dan jurnalisme selama pandemi ini menjadi kabur, sebut Zen RS. Dalam hal fungsi, konten sendiri bisa memenuhi tuntutan jurnalisme. Karena itu, beragam outlet media mulai membuka divisi konten untuk menjawab tantangan ini. Maka, tarik menarik antara sisi bisnis dan sisi jurnalisme dari produksi konten digital ini menjadi sangat menarik dan penting.

Evi Mariani menanggapi bahwa Project Multatuli justru lahir sebagai otorkritik dengan mendisrupsi praktik jurnalisme media digital yang dominan. Pada akhirnya, dunia digital juga menunjukkan ada ketimpangan di antara mereka yang berkuasa dan bermodal dan mereka yang tereksklusi dan marjinal. Maka, Project Mulatuli berusaha memiliki bisnis yang berbeda, yaitu dengan gaya jurnalisme telaten (slow journalism) demi menyalani mereka yang terpinggirkan.

Selanjutnya, Endy Bayuni memaparkan laporkan dari Reuter yang berjudul Digital News Report 2021. Laporan ini menggambarkan dunia pemberitaan digital di dunia. Dari mulai sumber mengakses berita, penggunaan media sosial, proporsi jumlah orang yang mempercayai berita, proporsi misinformasi dari berbagai platform, proporsi media yang dipercaya, hingga penggunaan perangkat,

Terkait dengan praktik jurnalisme klik, Evi menyatakan bahwa PM berusaha membebaskan dari logika klik. Yang penting adalah informasi dapat didistribusikan ke banyak orang, melalui platform media sosial dengan strategi kampanye masing-masing. Sementara itu, PM juga mengizinkan untuk menyebarkan atau menerbitkan ulang laporannya.

Di satu sisi, pihak media korporat yang bergantung pada investor juga mesti memenuhi kebutuhan bisnis. Zen RS menjawab tantangan ini. Ia menyebut formula yang didapatkan untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan investor, tapi juga melakukan kerja jurnalisme yang layak melalui komunitas yang targetnya khusus.

Lebih dari itu, masalah algoritma, misalnya, berkait erat dengan pendalaman demokrasi yang berpengaruh pada akses informasi yang tidak seimbang. Endy Bayuni menanggapi, bahwa platform sejak awal memang tidak peduli dengan pendalaman demokrasi, karena memang fokus pada profit. Pada akhirnya, informasi yang layak tidak bisa muncul dalam lini masa media sosial. Di satu sisi, publik dan pemerintah juga menuntut platform untuk setidaknya bisa mengatur konten, yang misalnya memenuhi ujaran kebencian, misinformasi, dll. Usaha itu dilakukan, tetapi karena skalanya sangat besar, sehingga masih bocor juga.

Dalam penutupnya, Evi Mariani menegaskan untuk mewujudkan pendalaman demokrasi melalui jurnalisme digital pada dasarnya harus memperhatikan mereka yang belum dapat mengakses informasi digital secara baik. Sementara itu, Zen RS menyatakan bahwa tidak ada yang anarkis dalam dunia digital. Dominasi big tech company seperti Google dan Facebook menjadi penguasa dan otoritas baru, bahkan bisa lebih besar dari negara. Terakhir, Endy Bayuni menambahkan dengan mengutip Maria Ressa, pemenang Nobel Peace Prize, mendeksripsikan platform-platform digital sebagai limbah yang beracun. Jurnalisme pada akhirnya harus tetap menjadi pilar keempat demokrasi, dengan setia pada etika jurnalisme yang kredibel dan terpercaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lambung yang Baik, Mari Bekerja Sama Kembali!

Membaca Laut Bercerita

Plafon dan Rumah Masa Depan Masyarakat Urban